Nih Khidir Dan Musa Dalam Perspektif Sufi
Kisah belajar Nabi Musa kepada Nabi Khidir akan menjadi anutan dan tumpuan buat segenap insan yg ingin menempuh jalan kepada Allah SWT lewat bimbingan seorang Guru yg paham Agama secara zahir dan bathin.Ilmu apa lagi yang harus diajarkan Khidir kepada Musa,sedangkan Musa yaitu seorang utusan Allah juga, luas pengetahuannya baik wacana agama maupun wacana dunia.Musa tidak akan mungkin sanggup menjadi murid Khidir selama beliau masih membawa pengetahuan yg pernah beliau dapat.Pengetahuan Musa baik wacana agama maupu wacana dunia menjadi penghambat baginya dalam berjalan menuju kepada Hakikat Ilmu.
Tapi Musa memang sudah ditakdirkan oleh Allah SWT menjadi murid Khidir dan begitu juga Khidir telah ditakdirkan menjadi Guru Musa,keduanya memang sudah berjodoh.Khidir tidak mengajarkan apapun kepada Musa,tidak memperlihatkan ceramah, wejangan,tidak satu kitab pun diberikan kepada Musa. Khidir hanya menghancurkan “Perahu” pengetahuan Musa semoga tidak ada lagi keterikatan dengan lautan,sementara daratan sudah menanti utk mendapatkan hal yg sama sekali baru.
Khidir juga membunuh “anak kecil” pada diri Musa,tanda-tanda menempel di tubuh yg akan menyeret Musa kepada pengingkaran dan itu tidak di sadari oleh Musa.“Anak Kecil” itu hanya sanggup dilihat oleh Khidir,Sang Guru Sejati yg mengambil ilmu dari Samudera Ilmu Allah SWT.Tindakan Khidir tentu saja tidak sanggup diterima oleh Musa,hati Musa bergolak menyaksikan hal tidak lazim itu.
Di final perjalanan,Khidir mengajak Musa utk memperbaiki rumah yg sudah hampir hancur semoga isi rumah berupa harta tak ternilai tidak dicuri orang.Perjalanan belajar Musa kepada Khidir yg dikisahkan dalam al Qur’an itu akan terus berlangsung sepanjang zaman dalam kondisi berbeda tanpa menghilangkan cita rasanya.
Jangan pernah belajar setengah perjalanan sebab engkau tidak akan mendapatkan apa-apa selain kebenaran semu yg kesannya hilang di telan angin malam.Kalau berhenti pada fase “Perahu” engkau akan menjadi orang yg suka menyalahkan,bahkan Guru mu pun engkau salahkan.Tetap dalam perahu, mengikuti hembusan angin dan hempasan ombak pada kesannya seluruh kisah wacana tenangnya daratan akan engkau ingkari.
Jika perjalanan berhenti pada “Membunuh Anak Kecil” maka engkau seolah olah menjadi Tuhan utk dirimu sendiri.Haram kau sebut halal dan malas kau sebut ibadah.Engkau akan menjadi tukang bantah dan merasa pengetahuanmu lah teramat tinggi.Pada final perjalanan nanti seluruh pengetahuan yg kau sanggup tidak bermanfaat sama sekali dan dikala itu lah engkau menjadi ragu.
Baca Disini:Cara Cepat Kaya Yang Diajarkan Nabi
Maka,buatlah bangunan itu dengan rapi dan indah bersama Guru,amanah menjaga diberikan kepada murid,jangan pernah sekalipun kau ceritakan wacana harta tersimpan di dalam sebab buat orang kaya gemar memberi itu tidak diharapkan sebab mereka juga memiliki hal yg sama tapi utk orang kolot dan jahat,harta itu nanti akan digunakan utk merusak.
Jika rumah telah didirikan,engkau tidak akan tersingung bila disebut bodoh,tidak akan murka disebut jahat dan tidak akan terluka bila disebut sebagai penghuni neraka.Junjungan kita Rasulullah SAW diakhir hayat juga memperlihatkan wasiat yg sama,menjaga rumah itu semoga harta di dalam tidak hilang. Allah SWT memperlihatkan gejala bahwa rumah itu telah selesai dengan sempurna,“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu,dan telah Kucukupkan pada kau nikmatKu dan telah kuridhai Islam itu sebagai agamamu. ” (QS. Al Maidah 3).
:Nasehat Rasulullah Kepada Ibnu Abbas Ketika Masih Kecil
Jika ada orang mengaku memiliki harta terpendam itu sementara beliau tidak memiliki rumah maka bekerjsama beliau yaitu pendusta…
sMoga Bermanfaat…
Related Posts
