Nih Ketetapan Allah Kepada Insan Sebelum Dilahirkan Ke Dunia

Penciptaan Manusia dan Penentuan Takdir Sejak di Dalam Kandungan Ibu

Penciptaan merupakan suatu awal dari setiap permulaan bagi semua makhluk Allah SWT. mulai dari manusia, hewan, tumbuhan, batu, pasir, langit, bumi, bintang dan matahari serta apapun yang Allah ciptakan niscaya mempunyai awal yang dinamakan kelahiran atau kemunculan. Pada kalangan insan Allah membuat pria dan perempuan. Begitu juga pada binatang dan tumbuhan, sebagian mereka mempunyai gender masing-masing.

Didalam menjalani hidup kita juga mengalami aneka macam aktifitas dan kreatifitas yang kita peroleh dari pengetahuan dan ilham. Manusia menjalani aktifitasnya sebagai suatu rutinitas dan kebiasaan sehari-hari. Sebagai makhluk yang cerdik dan berilmu, dalam menjalani hidupnya insan mempunyai aneka macam prilaku dan variasi tingkah laris sehingga menuntun kepada yang namanya perubahan. Dengan perubahan ini insan terus berkarya hingga terbentuk perubahan yang berbentuk suatu kebahagiaan atau kesengsaraan. Dan adupun kebahagian dan kesengsaraan inilah yang menjadi patokan dan target dalam hidup. Bagi yang ingin mendapatkan kebahagiaan maka melaksanakan yang terbaik dan mereka yang menginginkan kesusahan bermalas-malaslah.

 Penciptaan Manusia dan Penentuan Takdir Sejak di Dalam Kandungan Ibu Nih Ketetapan Allah Kepada Manusia Sebelum Dilahirkan ke Dunia

Kehidupan yang kita mulai bukanlah tidak mempunyai yang namanya akhir. Kelak setelah kehidupan dunia akan kita temui kehidupan alam abadi yang infinit yang sering disebut akhirat. Sebelum menuju kesana. Manusia semenjak penciptaan pertama sudah ditentukan takdirnya semenjak didalam kandungan. Yang mana semua itu yaitu termasuk amalan-amalan yang akan kita kerjakan didunia. Tidak ada satupun dari setiap detik yang kita habiskan untuk menegerjakan sesuatu pekerjaan melainkan semuanya telah ditulis oleh Allah semenjak dalam kandungan. Dan innilah yang kita sebut Takdir.

Proses penciptaan insan bukanlah satu tahap saja akan tetapi melalui aneka macam proses demi proses dialami dalam berbahai tahap. Seperti yang kita ketahui bahwa Nabi Adam diciptakan oleh Allah dari Tanah maka tidak jauh berbeda dengan kita semua sebagai keturunan Nabi Adam. Hanya saja berbeda karena Nabi Adam tidak lahir dari rahim seorang ibu. Dan juga bukan pencampuran antara sperma dan ovum. Akan tetapi Allah menciptakanya eksklusif dari saripati tanah.

Penciptaan Manusia dan Penentuan Takdir Sejak di Dalam Kandungan Ibu|Proses-proses penciptaan manusia

Proses-proses penciptaan insan mencakup banyak hal. Mulai dari pembentukan darah hingga menjadi sosok calon bayi atau janin yang tersimpan didalam rahim sang ibu. Sebelum membentuk darah, adapun asal insan yang paling utama ibarat yang kita ulas diatas tadi bahwa insan berasal dari tanah yaitu sari pati tanah. Dari saripati tanah itu Allah SWT. dengan kekuasaannya membuat menjadi air mani atau gabungan antara sperma dan ovum tadi membentuklah segumpal darah yang tersimpan didalam rahim. Segumpal darah ini atau yang disebut alaqah yaitu ibarat lintah (‘alaqah mempunyai arti sesuatu yang melekat atau lintah atau gumpalan darah beku) yang melekat pada rahim. Sang embrio ini memang berprilaku ibarat lintah karena ia menerima suplay darah dari sang ibunya ibarat halnya makhluk ini (lintah) penghisap darah. Proses ini bersangsung beberapa hari atau 3 hingga 4 ahad hingga terbentukklah selanjutnya daging-daging. Perkembangan demi perkembangan terus berjalan hingga pada hari ke-42 terbentuklah tulang-tulangnya yang menawarkan bentuk kepada kerangka sang janin. Pada tahap ini otot belumlah terbentuk nanti setelah ahad ketujuh dan awal ahad ke delapan otot gres terbentu. Yaitu tahap ini yaitu tahap ketika tulang-tulang dibalut oleh daging {berdasarkan klarifikasi Dr. Zakir naik}. Allah SWT. telah menjelaskan perihal masalah ilmiah ini dalam surat Al Mukminum ayat 12-15;

وَلَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ مِن سُلَٰلَةٍۢ مِّن طِينٍۢ | ثُمَّ جَعَلْنَٰهُ نُطْفَةًۭ فِى قَرَارٍۢ مَّكِينٍۢ | ثُمَّ خَلَقْنَا ٱلنُّطْفَةَ عَلَقَةًۭ فَخَلَقْنَا ٱلْعَلَقَةَ مُضْغَةًۭ فَخَلَقْنَا ٱلْمُضْغَةَ عِظَٰمًۭا فَكَسَوْنَا ٱلْعِظَٰمَ لَحْمًۭا ثُمَّ أَنشَأْنَٰهُ خَلْقًا ءَاخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ ٱللَّهُ أَحْسَنُ ٱلْخَٰلِقِينَ

Dan Sesungguhnya Kami telah membuat insan dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam daerah yang kokoh (rahim). kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, kemudian segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, kemudian tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik. Kemudian, setelah itu, Sesungguhnya kau sekalian benar-benar akan mati. (Qs. Al Mukminun 12-15)

Proses penciptaan insan dalam perut ibunya dalam Al Alquran dijelaskan sangatlah sempurnah, dari ‘alaqah atau gumpalan darah beku, kemudian diikuti dengan pembentukan daging, seterusnya tulang-belulang dan yang teakhir yaitu membalutnya dengan daging hingga terbentuklah dia seorang anak insan (calon bayi/janin). Pada tahap-penciptaan dalam kandungan, setelah semuanya terbentuk maka disana ketika penentuan rezeki, kematian dan amalnya serta nasibnya sengsara ataukah bahagia.

Penentuan rezki yaitu penentuan mengenai perebendaharaan yang dimiliki olehnya di dunia. Apakah dia seorang pejabat, apakah dia seorang pedagang, dimanakah rezki-rezkinya juga termasuk hingga batas mana rezkinya itu. Maka ketika batas rezkinya sudah habis datanglah kematian bagi seorang tersebut. Ketika kematian hendak menjemput malaikat diutus oleh Allah kepadanya sambil berkata “wahai anak adam, akau sudah mencari rezki-rezkimu disetiap pelosok negeri ini bahkan dunia ini mungkin rezkimu sudah tidak ada lagi di dunia ini.” Catatan perihal rezki merupakan catatan rezki yang akan kita dapatkan didunia, baik perihal cara atau pun jenis dari rezki tersebut.

Ajal yang merupakan batas kehidupan kita di dunia sudah menjadi catatan semenjak dalam kandungan. Dimanakah kita akan hidup dan dimana akan kita mati. Walau ketika suatu waktu kita berada pada suatu daerah yang jauh niscaya kita akan ketempat dimana kita akan mati dan niscaya akan menuai kematian disana. Selaian itu, kematian atau kematian juga tidak sanggup diperlambat atau dipercepat, ibarat firman Allah SWT. berikut ini,

لِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۚ إِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ فَلَا يَسْتَـْٔخِرُونَ سَاعَةًۭ ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

Tiap-tiap umat mempunyai ajal. apabila telah tiba kematian mereka, Maka mereka tidak sanggup mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya). (QS. Yunus :49)

Sehingga, ketika detik ketika kita akan wafat maka ketika itulah nyawa kita melayang. Tidak ada nego-nego dengan malaikat maut. Walaupun malaikat maut kita tawarkan dengan harta benda yang kita miliki, baik emas mahupun permata malaikat akan tetap melaksanakan tugasnya sebagaimana mestinya.

Begitu juga dengan amalan yang akan kita lakukan didunia. Semua itu telah tertulis semenjak kita dalam kandungan sang ibu. Apakah kita selaku pelaku amal baik ataukah pelaku amal buruk. Maka itu akan tercermin dalam kehidupan kita.

Tidak terkecuali dengan nasib, baik senang atau bangga maka sesungguhnya semua itu juga telah ditentukan oleh Allah semenjak kita dalam kandungan. Adapaun semua hal yang menyangkut penentuan nasib sudah dijelaskan oleh Nabi Mustafa Muhammad SAW. Dalam sabdanya,

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ وَوَكِيعٌ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ الْهَمْدَانِيُّ وَاللَّفْظُ لَهُ حَدَّثَنَا أَبِي وَأَبُو مُعَاوِيَةَ وَوَكِيعٌ قَالُوا حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوقُ إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ فَوَالَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ كِلَاهُمَا عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ الْحَمِيدِ ح و حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ ح و حَدَّثَنِي أَبُو سَعِيدٍ الْأَشَجُّ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ ح و حَدَّثَنَاه عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا شُعْبَةُ بْنُ الْحَجَّاجِ كُلُّهُمْ عَنْ الْأَعْمَشِ بِهَذَا الْإِسْنَادِ قَالَ فِي حَدِيثِ وَكِيعٍ إِنَّ خَلْقَ أَحَدِكُمْ يُجْمَعُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً و قَالَ فِي حَدِيثِ مُعَاذٍ عَنْ شُعْبَةَ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً أَرْبَعِينَ يَوْمًا وَأَمَّا فِي حَدِيثِ جَرِيرٍ وَعِيسَى أَرْبَعِينَ يَوْمًا

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah; Telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dan Waki'; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin 'Abdullah bin Numair Al Mahdani dan lafazh ini miliknya; Telah menceritakan kepada kami Bapakku dan Abu Mu'awiyah dan Waki' mereka berkata; Telah menceritakan kepada kami Al A'masy dari Zaid bin Wahb dari 'Abdullah dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yaitu -Ash Shadiq Al Mashduq-(seorang yang jujur memberikan dan gosip yang disampaikannya yaitu benar): 'Sesungguhnya seorang insan mulai diciptakan dalam perut ibunya setelah diproses selama empat puluh hari. Kemudian menjadi segumpal daging pada empat puluh hari berikutnya. Lalu menjadi segumpal daging pada empat puluh hari berikutnya. Setelah empat puluh hari berikutnya, Allah pun mengutus seorang malaikat untuk menghembuskan ruh ke dalam dirinya dan diperintahkan untuk menulis empat hal; rezekinya, ajalnya, amalnya, dan sengsara atau bahagianya.' Demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia, sungguh ada seseorang darimu yang mengerjakan amal perbuatan andal surga, hingga jarak antara dirinya dan nirwana hanyalah satu hasta, namun suratan takdir rupanya ditetapkan baginya hingga ia mengerjakan amal perbuatan andal neraka dan risikonya ia pun masuk neraka. Ada pula orang yang mengerjakan amal perbuatan andal neraka, hingga jarak antara ia dan neraka hanya satu hasta, namun suratan takdir rupanya ditetapkan baginya hingga kemudian ia mengerjakan amal perbuatan andal nirwana dan risikonya ia pun masuk surga.' Telah menceritakan kepada kami 'Utsman bin Abu Syaibah dan Ishaq bin Ibrahim keduanya dari Jarir bin 'Abdul Hamid; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim; Telah mengabarkan kepada kami 'Isa bin Yunus; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepadaku Abu Sa'id Al Asyaj; Telah menceritakan kepada kami Waki'; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakannya kepada kami 'Ubaidullah bin Mu'adz; Telah menceritakan kepada kami Bapakku; Telah menceritakan kepada kami Syu'bah bin Hajjaj seluruhnya dari Al A'masy melalui jalur ini, dia berkata di dalam Hadits Waki'; sesungguhnya penciptaan salah seorang dari kalian dimulai dari perut ibunya selama empat puluh malam. Dan di sebutkan di dalam Hadits Mu'adz dari Syu'bah empat puluh malam, kemudian empat puluh hari. Sedangkan di dalam Hadits Jarir, empat puluh hari. (Shahih Muslim No.4781)

Dalam Hadis lain :

حَدَّثَنِي أَبُو كَامِلٍ فُضَيْلُ بْنُ حُسَيْنٍ الْجَحْدَرِيُّ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي بَكْرٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ وَرَفَعَ الْحَدِيثَ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ وَكَّلَ بِالرَّحِمِ مَلَكًا فَيَقُولُ أَيْ رَبِّ نُطْفَةٌ أَيْ رَبِّ عَلَقَةٌ أَيْ رَبِّ مُضْغَةٌ فَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَقْضِيَ خَلْقًا قَالَ قَالَ الْمَلَكُ أَيْ رَبِّ ذَكَرٌ أَوْ أُنْثَى شَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ فَمَا الرِّزْقُ فَمَا الْأَجَلُ فَيُكْتَبُ كَذَلِكَ فِي بَطْنِ أُمِّهِ

Telah menceritakan kepadaku Abu Kamil Fudhail bin Husain Al Jahdari; Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid; Telah menceritakan kepada kami 'Ubaidullah bin Abu Bakr dari Anas bin Malik -secara marfu'- dia berkata; Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mengirim malaikat pada setiap rahim, dan malaikat itu berkata; Wahai Rabb nutfah (air mani) , Rabb 'alaqah (segumpal darah), Rabb mudhghah (segumpal daging). Jika Allah Azza wa Jalla hendak menentukan takdir pada mahluk-Nya, Malaikat itu berkata Wahai Rabb, pria atau perempuan? celaka atau bahagia, bagaimana rizki dan bagaimana ajalnya? Maka ditulislah ketetapan itu dalam perut ibunya. (Shahih Muslim No.4785)

Dari kedua hadits diatas juga dijelaskan sangat merinci perihal penentuan nasib dan takdir seorang anak manusia. Apapun yang mereka lakukan dan mereka dapatkan di dunia yaitu menurut takdir mereka sendiri. Bahkan kalau mereka merupakan andal neraka, walau sudah melaksanakan kebajikan, namun karena takdir menentukan dia andal neraka maka ketika menjelang maut dia niscaya melaksanakan andal neraka. Begitu pula sebaliknya, kalau dia yaitu sebelumnya sering mengerjakan amal mungkar maka ketika hendak menjelang maut maka dia niscaya mengerjakan amal baik dan taubat laantaran dia yaitu andal surga.

Banyak kejadia-kejadian ibarat ini terjadi. Seperti teladan Syeih Barsisah yang masyhur dengan kealimannya. Sangking masyhur dan tinggi ilmunya, murid-muridnya sanggup terbang menjelajahi awan. Maka tidak terbayangkan lagi bagaimana beliau. Akan tetapi suatu ketika belaiu terperdaya oleh iblis yang menyamar sebagai seorang yang Alim yang berzikir sepanjang waktu didalam masjid. Beliau kagum karena tiada makan dan minum orang tersebut (iblis yang menyamar) tetap berzikir kepada Allah SWT.. Lalu dia mendatangi orang tersebut dengan bertanya bagaimana dia sanggup ibarat itu beribadah kepada Allah yaitu tanpa makan dan minum. Maka ditawarkanlah dengan proposal menyesat seolah-olah itu yaitu amal ma’ruf yang padahal itu yaitu amalan kafir. Maka dikerjakanlah oleh Syeih pekerjaan tersebut. Panjang ceritanya sebenarnya, singkat saja ceritanya risikonya dia mati dalam keadaan kafir.

Begitu juga kalau kehidupan seorang yang kafir yang ditakdirkan menjadi penghuni nirwana maka akan melaksanakan amal perbuatan baik atau bertobat pada simpulan hayatnya ibarat seorang yang kafir sebelumnya maka masuk islam ketika menjelang ajal. Adapun orang yang gres masuk islam laksana bayi yang gres lahir meskipun amal jahat pernah dilakukan. Karena amal itu akan dihapus dan dia yaitu sebagai seorang yang higienis dari dosa sehingga buku amalannya yang gres akan dimulai ketika dia gres masuk islam. Amalan baik atu jelek akan dicatat pada buku amalan baru. Dan apabila dia mati pada ketika gres masuk islam maka dia niscaya akan masuk nirwana karena ini yaitu kesepakatan Allah SWT. Kaum muslimin yang berbahagia,

Nah, sudah terperinci bahwa tidak ada satupun amalan yang kita kerjakan didunia kecuali semua telah tercatat semenjak dalam kandungan. Mungkin ada yang bertanya, jadi untuk apa kita beramal, kalau memang semua yang kita lakukan yaitu sudah tertulis semenjak kita dalam kandungan. bagaimana kalau kita berserah diri saja kepada Allah SWT.. Nah, untuk menjawab pertanyaan ini, marilah kita simak kisah dari hadits nabi berikut ini,

Hadis riwayat Ali ra., ia berkata:

Kami sedang mengiringi sebuah mayat di Baqi Gharqad (sebuah daerah pemakaman di Madinah), kemudian datanglah Rasulullah saw. menghampiri kami. Beliau segera duduk dan kami pun ikut duduk di sekeliling dia yang ketika itu memegang sebatang tongkat kecil. Beliau menundukkan kepalanya dan mulailah membuat goresan-goresan kecil di tanah dengan tongkatnya itu kemudian dia bersabda: Tidak ada seorang pun dari kau sekalian atau tidak ada satu jiwa pun yang hidup kecuali telah Allah tentukan kedudukannya di dalam nirwana ataukah di dalam neraka serta apakah ia sebagai seorang yang sengsara ataukah sebagai seorang yang bahagia. Lalu seorang lelaki tiba-tiba bertanya: Wahai Rasulullah! Kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita berserah diri kepada takdir kita dan meninggalkan amal-usaha? Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang berbahagia, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang berbahagia. Dan barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang sengsara, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang sengsara. Kemudian dia melanjutkan sabdanya: Beramallah! Karena setiap orang akan dipermudah! Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang berbahagia, maka mereka akan dimudahkan untuk melaksanakan amalan orang-orang bahagia. Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang sengsara, maka mereka juga akan dimudahkan untuk melaksanakan amalan orang-orang sengsara. Kemudian dia membacakan ayat berikut ini: Adapun orang yang menawarkan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar. (Shahih Muslim No.4786)

Bisa kita lihat dalam kehidupan ini, yaitu orang-orang yang melaksanakan amalan baik maka itulah amalan andal nirwana dan itulah ciri-ciri para andal surga. Begitu pula orang yang suka mengerjakan keburukan, itu yaitu cerminan perbuatan andal neraka. Para andal nirwana senantiasa mengerjakan amalan yang disuruh oleh Allah dan menjauhi larangan-Nya. Baik itu amalan sunnat dan amalan wajib. Misalnya shalat, puasa, haji, zakat, sedekah, berbaik sangka, bersykur dan menjauhkan dari amalan ibarat mencuri, berzina, mengupat, melawan orang renta dan lain sebagainya. Adapun andal neraka senantiasa melaksanakan amalan-amalan andal neraka yaitu berbuat kemaksiatan-kemaksiatan, amalan jahat, mencuri, berzina, judi dan meninggalkan amalan-amalan shalih yang dianjurkan oleh Allah SWT.

Maknanya adalah, Allah SWT. menawarkan kepada kita pilihan dalam mengerjakan amalan. Apakah kita ingin masuk nirwana maka kerjakan amalan yang mengarah masuk nirwana dan apabila kita ingin masuk neraka maka kerjakan amalan yang mengarah masuk neraka. Pilihan yang kita pilih yaitu kehendak kita dalam menjalankan amalan.

Maka kalau kita ingin menjadi salah satu andal nirwana kerjakanlah amalan andal nirwana dan juga apabila ingin mendapatkan kehidupan alam abadi berupa neraka maka kerjakanlah amalan jahat dan mungkar. Karena kehidupan dunia akan menjadi cerminan bagaimana kehidupan alam abadi anda nanti. Kemudian dari pada itu, andal neraka juga akan nampak, mereka seakan tuli dengan aliran agama. Mereka senantiasa menegerjakan amalan jahat meskipun diperintahkan untuk mengerjakan amalan shalih.

Ingatkah kita kepada kisah Nabi Adam AS. Mana kala Allah telah membuat bumi beserta lautan yang luasnya membentang dan gunung-gunung yang menjulang tinggi sebagai pengokoh dibumi. Bintang dan bulan yang beriringan, bintang yang menghiasi malam Dan juga Allah membuat para malaikat serta makhluk yang dinamakan iblis. Dan tibalah saatnya Allah membuat makhluk lain yang akan mengisi bumi dan memeliharanya serta mengelola kekayaannya dengan hidup secara turun temurun hingga ketika yang ditentukan. maka ketika Allah SWT. memberitakan ini kepada malaikat, mereka khawatir kalau Allah membuat makhluk lain itu akan menjadi perusak bumi dan akan menumpah darah anatar sesama. Berkata mereka kepada Allah SWT. : "Wahai Tuhan kami! Buat apa Tuhan membuat makhluk lain selain kami, padahal kami selalu bertasbih, bertahmid, melaksanakan ibadah dan mengagungkan nama-Mu tanpa henti-hentinya, sedang makhluk yang Tuhan akan ciptakan dan turunkan ke bumi itu, nescaya akan bertengkar satu dengan lain, akan saling bunuh-membunuh berebutan menguasai kekayaan alam yang terlihat diatasnya dan terpendam di dalamnya, sehingga akan terjadilah kerusakan dan kehancuran di atas bumi yang Tuhan ciptakan itu."

Allah berfirman, menghilangkan kekhuatiran para malaikat itu: "Aku mengetahui apa yang kau tidak ketahui dan Aku sendirilah yang mengetahui hikmat penguasaan Bani Adam atas bumi-Ku. Bila Aku telah menciptakannya dan meniupkan roh kepadanya, bersujudlah kau di hadapan makhluk gres itu sebagai penghormatan dan bukan sebagai sujud ibadah, karena Allah SWT. melarang hamba-Nya beribadah kepada sesama makhluk-Nya. "

Kemudian diciptakanlah Adam oleh Allah SWT. dari segumpal tanah liat, kering dan lumpur hitam yang berbentuk. Setelah disempurnakan bentuknya ditiupkanlah roh ciptaan Tuhan ke dalamnya dan berdirilah ia tegak menjadi insan yang sempurna.

Namun ketika mereka disuruh untuk bersujud kepada adam maka sujudlah mereka kecuali sesosok makhluk yang namanya iblis. Iblis tidak mahu bersujud kepada Adam karena dia diciptakan dari api sedangkan adam hanya dari tanah. Iblis menganggap mereka lebih mulia dari adam. Dan iblis sama sekali tidak mahu taubat kepada Allah SWT. Maka diusirlah iblis oleh Allah dari surga.

Dari gerak-gerik penghuni nirwana atau neraka sudah nampak, yang mana para malaikat sujud kepada nabi adam dan iblis malah membangkang. Maka itulah maksud yang dikatakan dalam hadits diatas tadi bahwa kalau seorang memang penghuni nirwana maka dia niscaya akan melaksanakan perbuatan yang mengarah kepada nirwana tersebut dan begitu sebaliknya. Lihatlah kemungkaran dan kesombongan yang dilakukan iblis yang mana perbuatan ini merupakan perbuatan andal neraka.

Kemudian alasannya yaitu sudah diusir oleh Allah, iblis meminta izin kepada Allah untuk menarik hati anak cucu Adam untuk mengikut kejalan mereka. Maka Allah mengabulkan undangan iblis. Untuk pertama kalinya iblis menarik hati adam dan istrinya memakan buah khuldi yang dihentikan oleh Allah. Karena mereka menganggap bahwa adam yaitu penyebab mereka terusir. Dengan aneka macam rayuan dan bujukan Nabi Adam juga belum terhasut oleh iblis namun ketika iblis marayu istrinya maka termakanlah oleh Hawa juga disusul oleh Nabi Adam. Sesuai dengan kesepakatan Allah akan mengusir mereka juga kalau memakan buah khuldi maka Adam juga ikut terusir dari surga. Namun walaupun terusir Nabi Adam telah bertaubat dan Allah mendapatkan taubatnya Nabi Adam AS.

Adapun pesan tersirat dari kisah Nabi Adam, Allah SWT. memang sudah membuat bumi untuk insan dan atau anak cucu adam. Dimana ketika Allah berbincang dengan para malaikat, para malaikat merasa khawatir akan kemunculan makhluk lain itu yang kemudian dikenal sebagai Nabi Adam. Kemudian Allah menjelaskan perihal perkara-perklara tersebut. Dan juga proses termakannya buah khuldi oleh Nabi Adam dan Siti Hawa yaitu alasannya yaitu mengapa mereka keluar dari surga. Karena sesungguhnya ketetapan Allah untuk menurunkan nabi adam kebumi memang sudah ada semenjak sebelum nabi adam muncul. Dan inilah yang dinamakan takdir.

Pernah terjadi peredebatan antara Nabi Musa AS dan Nabi Adam AS. Sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi SAW. dalam hadits yang diriwayaatkan oleh Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Pernah Adam dan Musa saling berdebat. Kata Musa: Wahai Adam, kau yaitu nenek moyang kami, kau telah mengecewakan cita-cita kami dan mengeluarkan kami dari surga. Adam menjawab: Kamu Musa, Allah telah memilihmu untuk diajak berbicara dengan kalam-Nya dan Allah telah menuliskan untukmu dengan tangan-Nya. Apakah kau akan menyalahkan saya karena suatu masalah yang telah Allah tentukan empat puluh tahun sebelum Dia membuat aku? Nabi saw. bersabda: Akhirnya Adam menang berdebat dengan Musa, risikonya Adam menang berdebat dengan Musa. (Shahih Muslim No.4793)

Maka setiap makhluk yang telah ditentukan oleh Allah SWT. perihal takdirnya sungguh tidak sanggup dihindari, apabila ketetapannya sebagai seorang yang berinfak shalih maka dia akan senantiasa berinfak shalih, apabila ketetapannya sebagai hamba yang berilmu maka amalannya senantiasa menuntut ilmu dan Allah memudahkannya menuntu ilmu. Begitu juga apabila dia seorang pencuri maka dia akan senantiasa mencuri. Apabila dian seorang pejudi maka amalanya itu tidak lepas dari perbuatan judi. Apabila ketetapannya sebagai orang seorang pezina maka kelakuannya yaitu selalu bergelimang dengan zina.seperti sabda nabi SAW. berikut ini,

Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:

Bahwa Nabi saw. bersabda: Sesungguhnya Allah telah menentukan kadar nasib setiap insan untuk berzina yang niscaya akan dikerjakan olehnya dan tidak sanggup dihindari. Zina kedua mata ialah memandang, zina verbal (lidah) ialah mengucapkan, sedangkan jiwa berharap dan berkeinginan dan kemaluanlah (alat kelamin) yang akan membenarkan atau mendustakan hal itu. (Shahih Muslim No.4801)

Maka lihatlah mereka yang sering berbuat keburukan, mereka senantiasa melaksanakan keburukan itu meskipun aneka macam tuntunan agama telah diajarkan kepadanya. Karena mereka telah ditetapkan sebagai penghuni neraka. Dan apabila dia memang andal surga, dengan sekali dua kali dan tiga kali tuntunan agama yang diberikan, maka dia akan mendengarnya dan meninggalkan amalan jahat serta mengerjakan amalan shalih kerana sesungguhnya dia telah mempunyai ketetapan sebagai andal surga.

Apakah kita harus tetap demikian? Tetap dalam amalan jahat? Berusahala menjadi lebih baik, mungkin takdir kita bukan yang demikian. karena hasutan dan rayuan setan itu sangat menyesatkan jiwa dan raga kita. Semoga kita menjadi lebih baik. aamiin ya rabbal 'alamiin

Demikian saja cerahan singkat ini, agar menerima ridha dari Allah SWT. dan selalu menerima petunjuk-Nya. Aamiin aamiin yaaa rabbal ‘aalamiin.
Related Posts