Nih Dongeng Anak Jalanan Dari Awal Hingga Akhir
Sedikit Cerita Bersama Anak Jalanan,debu jalanan dongeng anak jalanan
Seribu rupiah seribu masa depan
“Semir tante? ”
“Semir? Hehehe maaf ya dek, saya lagi ga pake sepatu. ”
“Ga pa2 tante, semir aja ya. ”
“Apanya yang mau disemir dek? apa kakiku yang mau disemir? lain kali aja ya.” Kebetulan saya memang jarang sekali menggunakan sepatu, lebih sering menggunakan sandal.Dua bocah lelaki kecil itu tersenyum malu-malu.Satu anak kecil dengan bulu mata lentik,sedangkan yang satu lagi lebih besar dengan kulit coklat terbakar matahari.
“Udah makan belum? ”Aku tengok arloji, jarum jam sudah mengatakan pukul setengah satu siang.
“Belum tante. ”
“Udah sarapan? ”
“Belum tante. ”
“Makan bareng yuk. ”
“Bungkus aja ya tante. ”
“Kok dibungkus? Makan sini aja bareng-bareng. ”
“Ada teman-teman yang lain tante, ga yummy kalau makan sendiri. ”
“Ya udah mana sebagian temanmu yang lain, suruh kesini aja sekalian, kita makan bareng. ”
Anak kecil yang agak besar tadi memanggil sebagian temannya yang berada tidak jauh dari daerah kami duduk. Tiga bocah kecil tiba menghampiri, dengan malu-malu.
“Kalian udah makan belum? Makan bareng yuk”
Berdua bersama temanku, kami memesan masakan suplemen untuk mereka. Semula mereka masih malu-malu, duduk di sudut sebelah meja kami. Berlalunya waktu dan percakapan yang terjadi, jadinya mereka mulai mendapatkan kami dan menanggapi perbincangan dengan lancar.
Lima bocah kecil duduk bersama dalam satu meja. Bocah dengan bulu mata lentik malu-malu berjulukan Didi, dikala ini masih duduk di dingklik TK. Yang agak besar berjulukan Ardi, kelas 6 SD yang sebentar lagi akan mengikuti ujian nasional. Satu lagi berjulukan Ali, dengan celetukan yang agak bernafsu bila dibandingkan dengan usianya yang masih duduk di dingklik SD kelas 3. Dari dongeng sebagian temannya, kata-kata dan tingkah laris Ali terpengaruh oleh ayahnya yang kasar. Ayah Ali seorang pemabuk yang bekerja sebagai tukang ojek sering melontarkan kata-kata bernafsu bahkan cenderung menggunakan kekerasan terhadap Ali. Menariknya, bila Ali sudah mulai berkata kasar, sahabat lainnya akan menegurnya. Bocah kecil satu lagi berjulukan Yudhi, paling pendiam diantara lima anak itu. Bocah terakhir (kebetulan saya lupa namanya) terlihat paling remaja dan sering menjadi jubir di antara sebagian temannya.
Sambil menunggu masakan datang, kami isi dengan mengobrol santai. Mereka yakni bawah umur kecil yang sehari-harinya menjadi tukang semir sepatu di pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM). Mereka tidak mau menyebut diri mereka pengamen atau (maaf) pengemis, tetapi tukang semir sepatu. Paling tidak untuk uang yang mereka dapatkan yakni hasil kerja memberi jasa bukan asal sekedar mendapatkan uang. Mereka berlima tinggal tidak jauh dari TIM.
“Kalian di TIM dari jam berapa hingga jam berapa? Apa nggak dicari ibu kalian? ”
“Kalau Senin hingga Sabtu, sehabis selesai sekolah hingga malam kira-kira jam 8 malam. Kalau hari Minggu, dari pagi hingga malam. ”
“Dalam sehari sanggup mampu berapa dari menyemir sepatu, dek? ”
“Kadang goceng kadang ceban, kalau hari Minggu sepi, kini aja belum sanggup tante. ”
“Trus, uangnya buat apa? Buat jajan kalian apa ditabung? ”
“Dikasih ibu dirumah. Tapi nggak semuanya, kalau sanggup ceban, yang goceng dikasih yang gocengnya lagi digunakan jajan sama ditabung di sekolahan, hehehehe…”
Akhirnya pesanan masakan datang, dan kamipun makan ramai-ramai. Ditengah makan, tiba segerombolan bawah umur kecil dalam jumlah yang lebih banyak. Mereka mengawasi kami dengan pandangan menyelidik. Agak penasaran, sebab 5 bocah tadi terlihat ketakutan dengan kedatangan mereka. Melihat polah gerombolan anak kecil tadi berbeda dengan 5 bocah yang dikala itu duduk bersama kami. Mereka lebih bernafsu baik dalam perilaku maupun kata-kata dengan rambut yang lebih merah terbakar matahari.
“Kalian kenal mereka? Teman-teman di TIM juga? ”
“Bukan tante, mereka bukan sahabat kami, mereka bawah umur luar TIM. Kemarin kami dipukuli mereka. ” Agak kaget juga mendengarnya.
“Dipukuli kenapa? ”
“Anak-anak di luar TIM dilarang masuk dan mengamen di TIM.Yang boleh di TIM ya hanya bawah umur di dalam TIM saja. Kemarin kami lihat mereka mengamen di TIM,terus kami lapor ke keamanan TIM dan bujang.Akhirnya mereka dimarahi, tapi mereka murka terus mendatangi kami dan memukul kami. ”
“Makanya lain kali, nggak usah lapor-lapor lagi,biarin aja mereka,daripada dipukuli lagi.” Kata temannya menimpali sekaligus memperingatkan temannya yang lain.
Dari dongeng mereka, ada pembagian lokasi kerja.Lokasi TIM hanya boleh dikerjakan oleh bawah umur dalam TIM, itupun masih dibagi-bagi dalam bebrapa kelompok kecil dengan dikoordinatori bujang. Bujang yakni mantan penyemir sepatu yang dulu bekerja di TIM,setelah beranjak dewasa,mereka tidak lagi menyemir tetapi menjadi tukang parkir menggantikan tukang parkir yang sudah tua.Dari dongeng mereka,bujang bertugas mengatur dan melindungi mereka terutama bila terjadi perkelahian menyerupai yang diceritakan sebelumnya.Ketika ditanya, apakah ada belahan uang hasil semir sepatu yang diberikan ke bujang.Mereka menjawab tidak ada.Semoga saja apa yang mereka ceritakan benar,tidak ada uang yang harus diberikan ke bujang.
“Jangan-jangan nanti kalau kalian sudah besar,jadi tukang parkir menyerupai bujang? ”
“Iyalah tante,tapi besok kalau kami sudah besar.Kalau kini mana mungkin,bebrapa sanggup mobil-mobil yang parkir nabrak-nabrak semua.” Mereka tertawa bersama mendengar balasan sahabat mereka.
Di tengah tawa mereka, saya berpikir, menyerupai inilah hidup dan keinginan mereka.Mereka tidak pernah diajari untuk menggantung keinginan setinggi langit dan memiliki impian. Saya masih ingat sewaktu seusia mereka,saya memiliki keinginan sebagai dokter,teman-teman yang lain ada yang ingin menjadi polisi,astronot,dan sebagainya khas keinginan anak kecil.Tapi bagi mereka,apa yang nampak di depan mereka itulah yang akan mereka jalani kelak, menjadi tukang parkir.
“Kalian tahu sodomi? ”Agak kaget juga mendengar pertanyaan berani dari temanku.
“Tau. ”Jawab mereka serempak
“Kalian jawab dengan jujur ya, apa diantara kalian ada yang pernah disodomi? ” Tanya temanku dengan berani.
“Nggak tante. ” Jawab mereka saling berpandangan.
“Tapi, teman-teman yang diluar TIM ada. ” Kali ini saya benar-benar kaget mendengar balasan mereka.Memang di televisi sudah banyak diliput ihwal sodomi di kalangan anak jalanan, tapi mendengar sendiri dari ekspresi mereka benar-benar menciptakan shock.
“Kalian tau siapa yang melakukannya? ”
“Kalau kata teman-teman di luar, orang-orang abnormal yang nggak dikenal. Setelah menyodomi, terus ditinggal begitu aja. ”
Astaghfirullah……. menyerupai itukah kondisi mereka di jalanan.Hidup dengan kekerasan ditambah dengan pemerkosaan untuk anak sekecil mereka.
“Kalian harus hati-hati ya, kalau sanggup saling menjaga. ”
“Kalau di TIM sih tidak mengecewakan kondusif tante, tidak menyerupai yang di luar. Tapi ada juga yang kemarin pakai shabu-shabu. ” Astaga, apalagi ini, shabu-shabu? Anak sekecil itu sudah mengenal yang namanya shabu-shabu. Mungkin saya yang terlalu berpikir jauh, mungkin shabu-shabu yang dimaksud mereka yakni masakan Jepang, bukan barang terlarang itu.
“Shabu-shabu apa nih? Memangnya kalian tau apa itu shabu-shabu? ”
”Iya, yang narkoba itu kan.Kemarin kami lihat ada orang yang lagi nyabu di belakang.Ada juga yang pakai ganja, trus ada juga yang pakai suntikan.” Astaghfirullah,kami yang mendengar hanya sanggup menahan napas mendengar dongeng mereka. Mereka menyebutkan beberapa jenis narkoba bahkan bagaimana cara menggunakan suntikan di tangan.
“Kalian tau ancaman narkoba kan? ”
Dengan polos mereka menjawab, “nggak tau.Tapi yang jelas,kalau berurusan dengan narkoba nanti sanggup ditangkap polisi. ”
“Kalian jangan dekat-dekat dengan yang namanya narkoba ya.Kalian komitmen harus hati-hati, jangan pernah dekat-dekat. ”
“Tau tuh tante, si Ardi kemarin nemu suntikan trus dibawa sama dia. ”
“Aku kemarin nemu suntikan tante, dipendam di tanah,trus saya ambil saya pindahkan sama teman-teman yang lain. Ga tau tuh, kini dibuang kemana suntikannya sama teman-teman yang lain. ”
“Ardi…. jangan dekat-dekat apalagi hingga mengambil suntikannya. Kalau kau menemukannya, sudah biarin aja ya, nggak usah diambil apalagi dipindahin. Kalau pas kau bawa suntikan trus tertangkap berair sama pak polisi, nanti kan kau yang ditangkap, disangkanya kau yang makai. Kamu mau ditangkap polisi? ”
Kami berdua mencoba meyakinkan mereka untuk tidak dekat-dekat dengan narkoba. Di mata bocah-bocah kecil itu, mereka tidak tau apa itu narkoba, bagaimana berbahayanya narkoba, yang mereka tau narkoba berbahaya sebab sanggup ditangkap polisi kalau tertangkap berair membawanya. Yang berbahaya yakni rasa ingin tau mereka, untuk anak seusia mereka dengan jiwa-jiwa polosnya, rasa ingin tau sanggup mengalahkan segalanya.
“Bagaimana dengan bawah umur di luar. Apa mereka menggunakan narkoba? ”
“Nggak. Yang kecil menyerupai kami nggak pakai. Tapi yang bujang pakai narkoba. ”
“Itu…ayahnya eli kan pakai ganja. ” Timpal Ali dengan gaya sok taunya.
“Iya tante, ayahnya sahabat kami Eli kan pakai ganja sanggup dari ayahnya Dwi. ”
“Dapat dari mana uangnya untuk beli ganja? ”
“Nggak tau juga tante. ”
Saya masih terus berpikir dan mencoba mencerna semua pembicaraan dengan bocah-bocah kecil ini. Di usia sekecil itu, mereka sudah mengenal yang namanya shabu,ganja,suntikan,sodomi,kata-kata bernafsu menyerupai bangsat. Kondisi yang sangat berbeda jauh dengan bawah umur kecil yang berada di Planetarium daerah kami melihat pertunjukan ruang angkasa sebelumnya. Anak-anak kecil yang tiba bersama bapak-ibunya dengan mengendarai mobil, yang mengambek hanya sebab tidak dibelikan mainan gres di lobi Planetarium.Kondisi yang sangat timpang.
Bagi lima bocah kecil ini,bermain yakni bekerja,bekerja yakni bermain,tidak ada pakaian mewah,tidak ada mainan baru,tertawa bersama,dan bermain bersama.Mereka tidak tau apa itu hak yang sering digembar-gemborkan komnas tunjangan anak,yang mereka tau,mereka bekerja untuk mendapatkan uang untuk emak dan jajan mereka.
Percakapan singkat dengan lima bocah kecil itu,kembali menyadarkanku.Kondisi di luar sana bagi bawah umur jalanan yakni perang yang berlaku aturan alam,siapa yang besar lengan berkuasa dialah yang akan bertahan,sekalipun dengan saling serang sahabat sendiri untuk bertahan hidup.Di tengah perang itupun,mereka harus mendapatkan perlakukan oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan mereka hanya untuk pemuasan nafsu hewan yang menjijikan.
Kita dilarang akal-akalan buta dan tuli melihat kondisi menyerupai ini, karenabukanlah sekedar hanya kondisi menyerupai ini memang benar-benar terjadi,bukan hanya sekedar info dan rumor belaka.Teringat dengan Pasal 34 Undang-Undang Dasar 1945, yang hingga kini masih belum diamandemen keberadaannya “Yatim piatu dan bawah umur terlantar dipelihara oleh negara.” Kita yakni belahan dari negara Indonesia, kita yakni belahan dari masyarakat daerah mereka berada, jadi kita juga bertanggung jawab untuk memelihara dan membantu mereka.
*) terimakasih untuk lima bocah kecil yang telah menemani kami menghabiskan makan siang di salah satu sudut TIM.
Seribu rupiah seribu masa depan
“Semir tante? ”
“Semir? Hehehe maaf ya dek, saya lagi ga pake sepatu. ”
“Ga pa2 tante, semir aja ya. ”
“Apanya yang mau disemir dek? apa kakiku yang mau disemir? lain kali aja ya.” Kebetulan saya memang jarang sekali menggunakan sepatu, lebih sering menggunakan sandal.Dua bocah lelaki kecil itu tersenyum malu-malu.Satu anak kecil dengan bulu mata lentik,sedangkan yang satu lagi lebih besar dengan kulit coklat terbakar matahari.
“Udah makan belum? ”Aku tengok arloji, jarum jam sudah mengatakan pukul setengah satu siang.
“Belum tante. ”
“Udah sarapan? ”
“Belum tante. ”
“Makan bareng yuk. ”
“Bungkus aja ya tante. ”
“Kok dibungkus? Makan sini aja bareng-bareng. ”
“Ada teman-teman yang lain tante, ga yummy kalau makan sendiri. ”
“Ya udah mana sebagian temanmu yang lain, suruh kesini aja sekalian, kita makan bareng. ”
Anak kecil yang agak besar tadi memanggil sebagian temannya yang berada tidak jauh dari daerah kami duduk. Tiga bocah kecil tiba menghampiri, dengan malu-malu.
“Kalian udah makan belum? Makan bareng yuk”
Berdua bersama temanku, kami memesan masakan suplemen untuk mereka. Semula mereka masih malu-malu, duduk di sudut sebelah meja kami. Berlalunya waktu dan percakapan yang terjadi, jadinya mereka mulai mendapatkan kami dan menanggapi perbincangan dengan lancar.
Lima bocah kecil duduk bersama dalam satu meja. Bocah dengan bulu mata lentik malu-malu berjulukan Didi, dikala ini masih duduk di dingklik TK. Yang agak besar berjulukan Ardi, kelas 6 SD yang sebentar lagi akan mengikuti ujian nasional. Satu lagi berjulukan Ali, dengan celetukan yang agak bernafsu bila dibandingkan dengan usianya yang masih duduk di dingklik SD kelas 3. Dari dongeng sebagian temannya, kata-kata dan tingkah laris Ali terpengaruh oleh ayahnya yang kasar. Ayah Ali seorang pemabuk yang bekerja sebagai tukang ojek sering melontarkan kata-kata bernafsu bahkan cenderung menggunakan kekerasan terhadap Ali. Menariknya, bila Ali sudah mulai berkata kasar, sahabat lainnya akan menegurnya. Bocah kecil satu lagi berjulukan Yudhi, paling pendiam diantara lima anak itu. Bocah terakhir (kebetulan saya lupa namanya) terlihat paling remaja dan sering menjadi jubir di antara sebagian temannya.
Sambil menunggu masakan datang, kami isi dengan mengobrol santai. Mereka yakni bawah umur kecil yang sehari-harinya menjadi tukang semir sepatu di pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM). Mereka tidak mau menyebut diri mereka pengamen atau (maaf) pengemis, tetapi tukang semir sepatu. Paling tidak untuk uang yang mereka dapatkan yakni hasil kerja memberi jasa bukan asal sekedar mendapatkan uang. Mereka berlima tinggal tidak jauh dari TIM.
“Kalian di TIM dari jam berapa hingga jam berapa? Apa nggak dicari ibu kalian? ”
“Kalau Senin hingga Sabtu, sehabis selesai sekolah hingga malam kira-kira jam 8 malam. Kalau hari Minggu, dari pagi hingga malam. ”
“Dalam sehari sanggup mampu berapa dari menyemir sepatu, dek? ”
“Kadang goceng kadang ceban, kalau hari Minggu sepi, kini aja belum sanggup tante. ”
“Trus, uangnya buat apa? Buat jajan kalian apa ditabung? ”
“Dikasih ibu dirumah. Tapi nggak semuanya, kalau sanggup ceban, yang goceng dikasih yang gocengnya lagi digunakan jajan sama ditabung di sekolahan, hehehehe…”
Akhirnya pesanan masakan datang, dan kamipun makan ramai-ramai. Ditengah makan, tiba segerombolan bawah umur kecil dalam jumlah yang lebih banyak. Mereka mengawasi kami dengan pandangan menyelidik. Agak penasaran, sebab 5 bocah tadi terlihat ketakutan dengan kedatangan mereka. Melihat polah gerombolan anak kecil tadi berbeda dengan 5 bocah yang dikala itu duduk bersama kami. Mereka lebih bernafsu baik dalam perilaku maupun kata-kata dengan rambut yang lebih merah terbakar matahari.
“Kalian kenal mereka? Teman-teman di TIM juga? ”
“Bukan tante, mereka bukan sahabat kami, mereka bawah umur luar TIM. Kemarin kami dipukuli mereka. ” Agak kaget juga mendengarnya.
“Dipukuli kenapa? ”
“Anak-anak di luar TIM dilarang masuk dan mengamen di TIM.Yang boleh di TIM ya hanya bawah umur di dalam TIM saja. Kemarin kami lihat mereka mengamen di TIM,terus kami lapor ke keamanan TIM dan bujang.Akhirnya mereka dimarahi, tapi mereka murka terus mendatangi kami dan memukul kami. ”
“Makanya lain kali, nggak usah lapor-lapor lagi,biarin aja mereka,daripada dipukuli lagi.” Kata temannya menimpali sekaligus memperingatkan temannya yang lain.
Dari dongeng mereka, ada pembagian lokasi kerja.Lokasi TIM hanya boleh dikerjakan oleh bawah umur dalam TIM, itupun masih dibagi-bagi dalam bebrapa kelompok kecil dengan dikoordinatori bujang. Bujang yakni mantan penyemir sepatu yang dulu bekerja di TIM,setelah beranjak dewasa,mereka tidak lagi menyemir tetapi menjadi tukang parkir menggantikan tukang parkir yang sudah tua.Dari dongeng mereka,bujang bertugas mengatur dan melindungi mereka terutama bila terjadi perkelahian menyerupai yang diceritakan sebelumnya.Ketika ditanya, apakah ada belahan uang hasil semir sepatu yang diberikan ke bujang.Mereka menjawab tidak ada.Semoga saja apa yang mereka ceritakan benar,tidak ada uang yang harus diberikan ke bujang.
“Jangan-jangan nanti kalau kalian sudah besar,jadi tukang parkir menyerupai bujang? ”
“Iyalah tante,tapi besok kalau kami sudah besar.Kalau kini mana mungkin,bebrapa sanggup mobil-mobil yang parkir nabrak-nabrak semua.” Mereka tertawa bersama mendengar balasan sahabat mereka.
Di tengah tawa mereka, saya berpikir, menyerupai inilah hidup dan keinginan mereka.Mereka tidak pernah diajari untuk menggantung keinginan setinggi langit dan memiliki impian. Saya masih ingat sewaktu seusia mereka,saya memiliki keinginan sebagai dokter,teman-teman yang lain ada yang ingin menjadi polisi,astronot,dan sebagainya khas keinginan anak kecil.Tapi bagi mereka,apa yang nampak di depan mereka itulah yang akan mereka jalani kelak, menjadi tukang parkir.
“Kalian tahu sodomi? ”Agak kaget juga mendengar pertanyaan berani dari temanku.
“Tau. ”Jawab mereka serempak
“Kalian jawab dengan jujur ya, apa diantara kalian ada yang pernah disodomi? ” Tanya temanku dengan berani.
“Nggak tante. ” Jawab mereka saling berpandangan.
“Tapi, teman-teman yang diluar TIM ada. ” Kali ini saya benar-benar kaget mendengar balasan mereka.Memang di televisi sudah banyak diliput ihwal sodomi di kalangan anak jalanan, tapi mendengar sendiri dari ekspresi mereka benar-benar menciptakan shock.
“Kalian tau siapa yang melakukannya? ”
“Kalau kata teman-teman di luar, orang-orang abnormal yang nggak dikenal. Setelah menyodomi, terus ditinggal begitu aja. ”
Astaghfirullah……. menyerupai itukah kondisi mereka di jalanan.Hidup dengan kekerasan ditambah dengan pemerkosaan untuk anak sekecil mereka.
“Kalian harus hati-hati ya, kalau sanggup saling menjaga. ”
“Kalau di TIM sih tidak mengecewakan kondusif tante, tidak menyerupai yang di luar. Tapi ada juga yang kemarin pakai shabu-shabu. ” Astaga, apalagi ini, shabu-shabu? Anak sekecil itu sudah mengenal yang namanya shabu-shabu. Mungkin saya yang terlalu berpikir jauh, mungkin shabu-shabu yang dimaksud mereka yakni masakan Jepang, bukan barang terlarang itu.
“Shabu-shabu apa nih? Memangnya kalian tau apa itu shabu-shabu? ”
”Iya, yang narkoba itu kan.Kemarin kami lihat ada orang yang lagi nyabu di belakang.Ada juga yang pakai ganja, trus ada juga yang pakai suntikan.” Astaghfirullah,kami yang mendengar hanya sanggup menahan napas mendengar dongeng mereka. Mereka menyebutkan beberapa jenis narkoba bahkan bagaimana cara menggunakan suntikan di tangan.
“Kalian tau ancaman narkoba kan? ”
Dengan polos mereka menjawab, “nggak tau.Tapi yang jelas,kalau berurusan dengan narkoba nanti sanggup ditangkap polisi. ”
“Kalian jangan dekat-dekat dengan yang namanya narkoba ya.Kalian komitmen harus hati-hati, jangan pernah dekat-dekat. ”
“Tau tuh tante, si Ardi kemarin nemu suntikan trus dibawa sama dia. ”
“Aku kemarin nemu suntikan tante, dipendam di tanah,trus saya ambil saya pindahkan sama teman-teman yang lain. Ga tau tuh, kini dibuang kemana suntikannya sama teman-teman yang lain. ”
“Ardi…. jangan dekat-dekat apalagi hingga mengambil suntikannya. Kalau kau menemukannya, sudah biarin aja ya, nggak usah diambil apalagi dipindahin. Kalau pas kau bawa suntikan trus tertangkap berair sama pak polisi, nanti kan kau yang ditangkap, disangkanya kau yang makai. Kamu mau ditangkap polisi? ”
Kami berdua mencoba meyakinkan mereka untuk tidak dekat-dekat dengan narkoba. Di mata bocah-bocah kecil itu, mereka tidak tau apa itu narkoba, bagaimana berbahayanya narkoba, yang mereka tau narkoba berbahaya sebab sanggup ditangkap polisi kalau tertangkap berair membawanya. Yang berbahaya yakni rasa ingin tau mereka, untuk anak seusia mereka dengan jiwa-jiwa polosnya, rasa ingin tau sanggup mengalahkan segalanya.
“Bagaimana dengan bawah umur di luar. Apa mereka menggunakan narkoba? ”
“Nggak. Yang kecil menyerupai kami nggak pakai. Tapi yang bujang pakai narkoba. ”
“Itu…ayahnya eli kan pakai ganja. ” Timpal Ali dengan gaya sok taunya.
“Iya tante, ayahnya sahabat kami Eli kan pakai ganja sanggup dari ayahnya Dwi. ”
“Dapat dari mana uangnya untuk beli ganja? ”
“Nggak tau juga tante. ”
Saya masih terus berpikir dan mencoba mencerna semua pembicaraan dengan bocah-bocah kecil ini. Di usia sekecil itu, mereka sudah mengenal yang namanya shabu,ganja,suntikan,sodomi,kata-kata bernafsu menyerupai bangsat. Kondisi yang sangat berbeda jauh dengan bawah umur kecil yang berada di Planetarium daerah kami melihat pertunjukan ruang angkasa sebelumnya. Anak-anak kecil yang tiba bersama bapak-ibunya dengan mengendarai mobil, yang mengambek hanya sebab tidak dibelikan mainan gres di lobi Planetarium.Kondisi yang sangat timpang.
Bagi lima bocah kecil ini,bermain yakni bekerja,bekerja yakni bermain,tidak ada pakaian mewah,tidak ada mainan baru,tertawa bersama,dan bermain bersama.Mereka tidak tau apa itu hak yang sering digembar-gemborkan komnas tunjangan anak,yang mereka tau,mereka bekerja untuk mendapatkan uang untuk emak dan jajan mereka.
Percakapan singkat dengan lima bocah kecil itu,kembali menyadarkanku.Kondisi di luar sana bagi bawah umur jalanan yakni perang yang berlaku aturan alam,siapa yang besar lengan berkuasa dialah yang akan bertahan,sekalipun dengan saling serang sahabat sendiri untuk bertahan hidup.Di tengah perang itupun,mereka harus mendapatkan perlakukan oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan mereka hanya untuk pemuasan nafsu hewan yang menjijikan.
Kita dilarang akal-akalan buta dan tuli melihat kondisi menyerupai ini, karenabukanlah sekedar hanya kondisi menyerupai ini memang benar-benar terjadi,bukan hanya sekedar info dan rumor belaka.Teringat dengan Pasal 34 Undang-Undang Dasar 1945, yang hingga kini masih belum diamandemen keberadaannya “Yatim piatu dan bawah umur terlantar dipelihara oleh negara.” Kita yakni belahan dari negara Indonesia, kita yakni belahan dari masyarakat daerah mereka berada, jadi kita juga bertanggung jawab untuk memelihara dan membantu mereka.
*) terimakasih untuk lima bocah kecil yang telah menemani kami menghabiskan makan siang di salah satu sudut TIM.
Related Posts
